Tinggalkan komentar

2015 is about to end, have you prepare your 2016 Plan?

Kenapa kita perlu Rencana Kerja (RK)? Karena kita punya Tujuan yang ingin dicapai!

RK membantu kita untuk mencapai Tujuan yang kita inginkan secara maksimal. Sebagai panduan, RK mengandung seluruh unsur dalam aspek perusahaan mulai dari Financial Perspective, Customer Perspective, Internal Business Process Perspective hingga Learning and Growth Perspective. Dimana ke empat aspek tersebut dikenal dengan Balance Score Card (BSC).

Yuk kita bahas secara singkat:

1. Financial Perspective, pada bagian ini terdapat minimal 2 target mendasar : yaitu besaran revenue yang ingin didapatkan dan besaran keuntungan (net profit) yang ingin diterima. Besaran angka ini penting untuk ditetapkan sebagai acuan seluruh kegiatan perusahaan dari penjualan, investasi hingga pengeluaran biaya operasional. Kita harus tahu berapa yang akan kita dapatkan agar kita bisa merencanakan berapa besar biaya atau investasi yang akan kita keluarkan. Dasar perhitungannya menggunakan history setahun sebelumnya ditambah dengan besaran pertumbuhan yang kita harapkan untuk penjualan serta besaran biaya atau investasi yang akan kita keluarkan. Perkiraan ini dibuat dari mulai per store dan per department baru kemudian di konsolidasi secara nasional.

2. Customer Perspective, pada bagian ini terdapat minimal 2 target mendasar yaitu jumlah customer yang kita inginkan serta tingkat kepuasan yang kita harapkan. Mengapa ukuran ini penting? karena revenue yang kita hasilkan merupakan hasil transaksi dari para pelanggan atau pembeli produk dan jasa kita. Kepuasan mereka merupakan faktor yang menentukan masa depan perusahaan kita. Dasar perhitungannya bisa melihat jumlah transaksi yang terjadi atau jumlah produk yang terjual, dimana kita bisa asumsikan 1 orang per transaksi atau per produk. Namun jika memiliki database pelanggan serta perhitungan traffic pelanggan maka perhitungannya menggunakan data tersebut.

3. Internal Business Process, pada bagian ini merupakan seluruh usaha kita secara internal yang akan kita lakukan untuk mencapai 2 persepective sebelumnya. Dimana pada bagian ini minimal terdapat 4 target mendasar : Bidang Marketing & Sales, Bidang Product Development atau Business Expansion, Bidang Business Process & Improvements dan Bidang Partnership with Supplier or Partner.  Mengenali proses internal yang harus kita lakukan membuat seluruh tujuan kita tidak sekedar impian semata tapi sebuah Tujuan yang bisa kita usahakan dan capai.

4. Learning & Growth Perspective, pada bagian ini merupakan usaha-usaha yang kita lakukan dari sisi Human Capital . Pada bagian ini minimal terdapat 2 target mendasar yaitu : Training untuk Learning and Growth serta Recruitment untuk membantu proses Growth. Karyawan adalah sumberdaya paling utama karena menentukan apakah seluruh teknologi, proses serta keberlangsungan usaha kita bisa maksimal dan berjalan baik apa tidak.

Kapan sih, proses perencanaa ini harus dilakukan? Waktu yang paling tepat adalah pada awal quarter ke 4 atau sekitar awal Oktober. Namun yang ideal adalah sekitar Agustus atau September tergantung seberapa besar ukuran dan kompleksnya  perusahaan.

Dan jika sampai dengan hari ini anda belum memulainya, maka pastikan setelah membaca Newsletter ini anda segera mengumpulkan Top Management anda dan mulai membuatnya. Prosesnya tidak sulit namun memang butuh totalitas. Anda bisa search  tentang Balance Score Card, ada banyak contoh dari yang paling ideal hingga panduan praktisnya.

Atau anda juga bisa mengundang Opsmarketer untuk memberikan 1 session terkait basic prosesnya dari Visi hingga ke SMART action plan tiap orang. Dimana jika ini dilakukan, maka kita sudah tidak perlu lagi bingung bagaimana mengukur performance tiap orang karena mereka sudah punya apa yang disebut dengan Key Performance Indicator (KPI). Untuk Rate and Schedule availability bisa email ke : info@opsmarketer.com

Selamat Menyambut Tahun Baru 2016!!!!!

Tinggalkan komentar

How To Create Low Cost Sales Promotion Program at Store Manager Level?

Di retail challenge yang menantang salah satunya adalah kecilnya persentase Marketing Cost, biasanya dibawah 5% dan yang sering adalah 2% dari total sales. Itu Marketing Cost loh, artinya seluruh biaya mulai dari Iklan, cetak brosur hingga tactical program di Store sudah masuk kesana semua. Nah loh, kalo nominal sales nya masih kecil maka budgetnya bisa kecil banget. Apalagi jika ownernya short term thinker bisa lebih menderita lagi itu team marketing.

Trus jika di level HO saja sudah menderita apalagi di Store level? Padahal di Store level butuh banyak tactical program, mengingat program Nasional tidak bisa cover 100% kebutuhan Store bukan? Trus gimana caranya mengantisipasi hal ini? Ingat Store level itu juga seringkali dibatasi oleh wewenang dan ini menyulitkan namun dengan kreatifitas kita bisa bikin banyak hal sebagai Store Manager.

A. Joint Promotion

Ini yang paling umum dilakukan dan paling mudah dilakukan oleh setiap Store Manager (STM). Ingat kita berada di dalam Mall, berarti ada banyak tenant yang bisa kita ajak jadi partner Joint Promotion (JP). Konsep dasar JP adalah :

  1. Memiliki kesamaan Target Market
  2. Saling Menguntungkan
  3. Seimbang

Objective dasar dari program JP adalah Peningkatan Potential Traffic dengan menarik traffic dari partner JP ke Store kita begitu juga sebaliknya. Karena berada dalam satu segment maka tingkat potensinya lebih tinggi.

Beberapa program yang bisa dilakukan adalah memberikan benefit tambahan dimana besaran dan bentuknya disesuaikan dengan local budget atau wewenang dari Store level karena berbeda di tiap perusahaan. Dan bentuk program nya sangat bervariasi tergantung dengan siapa kita akan melakukan JP. Kreativitas sangat dibutuhkan dalam merancang program JP. Secara umum konsep dasarnya seperti contoh dibawah ini.

Contoh Program:

  • Bawa Struk Belanja, dapatkan special price/special product/special treatment
  • Belanja minimal sekian rupiah mendapatkan voucher dari Store A
  • Hingga saling menampilkan display product
  • Saling meletakkan flier atau POP

B. Supporting Mall Event

Seringkali mall mengadakan acara, namun seperti yang kita ketahui mall juga sangat membutuhkan partnership mengingat budget mereka juga sangat terbatas padahal acara yang harus dibuat butuh banyak biaya.

Nah kita bisa masuk dari celah seperti ini. Coba perhatikan event yang akan dibuat dan lihat dari sisi kita apakah ada product yang bisa kita berikan untuk support acara tersebut? Atau jika tidak ada product yang bisa kita berikan kita juga bisa berikan benefit untuk mereka.

Contoh:

  • Memberikan potongan atau special price atau product untuk setiap yang mendaftar dengan menukarkan kwitansi pendaftaran
  • Bisa juga memberikan performance art ke acara mereka dan sebagai gantinya mendapatkan booth untuk pendaftaran

Dan ini berlaku untuk setiap event yang dijalankan di mall dimana Store kita berada. Disini butuh kejelian STM untuk melihat dan mencari celah untuk support.

Dua tactical diatas adalah cara menarik traffic dari luar dan memperbesar market dengan customer acquisition program. Ingat Rumus dasar sales:

Quantity Sold x Price = Sales

Quantity Sold bisa datang dari jumlah pembeli yang meningkat dari traffic yang meningkat atau bisa datang dari peningkatan volume pembelian dari pembeli yang tetap.

Di Articl lain kita bahas lebih detail dari rumus dasar sales ini dan implementasinya. Now, Lets Try Simple Tools diatas yang bisa dilakukan di level Store. Kunci dari program ini adalah memperbesar Relationship and Networking (RAN).

Tinggalkan komentar

Ganti Marah dengan Tools Pembinaan HR

Pada article sebelumnya sudah dijelaskan secara umum tentang bagaimana untuk menghindarkan pengelolaan karyawan dengan personal dan perasaan. Pada article ini kita bahas lebih detail tentang pembinaan karyawan. Salah satu fungsi atasan adalah membina bawahannya. Nah dalam banyak hal fungsi ini jadi kurang maksimal karena banyak atasan yang lebih bisa memerintah dan marah-marah dari pada memberikan pembinaan kepada bawahannya.

Pada level store manager (STM) mulai memahami beberapa tools pembinaan dibawah ini:

A. Training

Melatih staff sangat penting selain untuk memastikan mereka bisa mengerjakan tugasnya dengan baik juga salah satu fungsi managerial adalah membantu bawahannya untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan mereka sehingga suatu saat mereka bisa menjalankan fungsi yang kita jalankan sekarang atau disebut juga dengan promosi kenaikan pangkat.

Di level store, training bisa dilakukan saat Shift Briefing (SB) atau saat Monthly Meeting (MB). Training berbeda dengan curhat. Jika curhat hanya cerita pengalaman saja maka training mengajarkan bagaiman sebuah pekerjaan dilakukan, apa yang harus diperhatikan, apa yang menjadi ukuran atau objective nya. Dimana output dari kegiatan Training, para bawahan tidak hanya bertambah wawasan juga menjadi tambah kemampuan untuk mengerjakan sebuah tugas lebih baik.

Role Play adalah salah satu cara training yang bagus selama dijalankan dengan sungguh-sungguh. Atau untuk menambah wawasan, maka kegiatan seperti bedah buku, sharing case dan cari solusi bersama bisa menjadi contoh-contoh untuk training di store.

B. Coaching

Jika training melatih staff kita dikelas atas saat meeting. Maka  sebagai STM kita berkesempatan untuk melakukan coaching langsung kemereka saat action. Mulai dari mendampingi mereka jualan hingga memberikan contoh bagaimana realita berinteraksi dilapangan, bagaimana menggunakan ilmu saat training ke implementasinya.

Proses coaching yang benar adalah menjelaskan apa yang sudah dilakukan tadi dan kenapa harus lakukan itu. Coaching yang kebablasan adalah hanya menyuruh mengikuti tanpa memberitahukan kenapa itu dilakukan. Pada akhirnya melahirkan kebiasaan tanpa kemampuan mengembangkan.

Dua hal diatas yang bermanfaat untuk pengembangan karyawan kita. Hilangkan kekhawatiran bahwa jika mereka diajarkan maka nanti mereka akan melawan kita. Atau dulu ga ada yang ngajarin kita dan kita berusaha sendiri untuk belajar. Atasan anda dulu salah apakah mau mengulang kesalahan? Belajar yang terbaik adalah dengan mengajar. Karena saat mengajar ke mereka maka kita juga mendapatkan feedback serta seringkali kita juga belajar lagi agar semakin maksimal hasilnya.

Nah diatas adalah untuk pengembangan, bagaimana jika ketemu ada kesalahan, pelanggaran atau sesuatu yang perlu di bina? Kedewasaan seseorang terlihat saat terjadi hal seperti ini. Tak jarang ditemui atasan yang lebih senang marah-marah hingga memaki terkadang jika melihat bawahannya melakukan kesalahan atau tidak mengerjakan yang diperintahkannya. Dan sering juga ini digunakan sebagai tools untuk membuat balas budi karena memberikan toleransi berlebihan sehingga menjadikan atasan seperti seseorang yang ditakuti dan seperti “Tuhan”

Sekarang mulai belajar menggunakan tools dibawah ini, mulai dari Teguran Lisan hingga Surat Peringatan Ketiga yang berarti pemecatan. Kita itu bekerja dan bekerja hubungan kita adalah Professional bukan personal. Saat kita tidak mampu memisahkan emosional personal dan membawanya ke ranah Professional maka saat itu juga kita gagal menjalankan fungsi kita sebagai manager atau atasan. Biar ga paranoid dengan tools ini, kita bahas satu persatu ya.

C. Teguran Lisan

Ini adalah tahap pembinaan paling ringan yaitu menegur secara lisan. Saat menemukan kesalahan atau hal – hal yang tidak seharusnya maka mulailah dengan menegur secara lisan. Saat menegur jelaskan apa kesalahannya dan apa yang seharusnya dilakukan. Dan berikan kesempatan mereka menjelaskan kenapa hal itu bisa dilakukan.

Jika ada buku manager atau email, pastikan menuliskan atau mengirimkan emailnya sehingga mereka ingat atas kesalahan mereka dan paham bahwa merek harus memperbaiki dimasa yang akan datang.

D. Surat Teguran

Porsi ini sudah dalam tahap lebih tinggi tingkat kesalahannya atau pengulangan dari kesalahan yang sama yang sudah di berikan Teguran Lisan. Jika ini adalah pengulangan dari Teguran Lisan maka tuliskan kapan waktu itu diberikan dan apa yang dilanggar serta apa yang kita harapkan.

Surat Teguran sudah menjadi catatan dalam kondite kerja dimana didalam Surat harus dijelaskan bahwa jika tidak ada perbaikan atau mengulangi kesalahan maka akan diberikan Surat Peringatan. Sama dengan Teguran Lisan, saat memberikan pembinaan ini kita juga dengarkan dari mereka kenapa hal itu bisa terjadi.

E. Surat Peringatan 1, 2 dan 3

Tahap Surat Peringatan berarti secara kesalahan ini sudah tinggi atau berulang. Isi Surat kurang lebih sama dengan Surat Teguran hanya saja secara kondite kerja biasanya akan mempengaruhi mulai dari kenaikan pangkat hingga bonus tahunan. Dan khusus pada Surat Peringatan Ketiga maka ini berarti pemutusan hubungan kerja.

Harap dipahami, dalam memberhentikan karyawan kita harus punya kejelasan kenapa? Jika karena ketidakmampuan mereka maka harusnya dibuktikan dengan Key Performance Indicator (KPI) result atau dengan Surat Peringatan.

Dengan membiasakan diri menjalankan proses pembinaan secara Professional maka kita menghidupkan lingkungan kerja yang penuh kepastian. Dimana kinerja diukur dengan KPI dan pembinaan menggunakan tools yang ada. No More favorite atasan karena banyak toleransi dan Atasan Killer karena banyak ngomel-ngomelnya.

Bisa? Yuk dijalankan!

Tinggalkan komentar

PDCA : Tools Basic Untuk Supervisory Skill

Sering denger dengan kata PDCA ? Yup itu adalah Plan, Do, Check, Act. Ini adalah Tools Management paling mendasar dalam melakukan fungsi sebagai Supervisor keatas. Simple dan karena saking simplenya itulah jadi lebih sering dilupakan hehehehehe. PDCA saat ini secara trend ketutupan dengan banyaknya training terkait dengan Leadership yang lebih mengutamakan soft skill. Apakah salah? Tentu tidak, PDCA adalah pondasi dasar management. Membangun rumah yang nyaman jadi terasa kurang saat pondasinya tidak kuat.

Yuk kita lihat lebih dekat tentang PDCA ini.

A. Plan

Biasakan untuk selalu membuat rencana sebelum melakukan sesuatu. Di store level, rencana dimulai dari Tahunan, Semesteran, Triwulan, Bulanan, Mingguan, Harian hingga per Shift. Kenapa? Karena rencana menjadi arah atau tujuan apa yang kita mau raih. Dengan mengetahui apa yang akan kita mau raih kerjaan dan aktivitas kita menjadi teratur dan terukur.

Plan bisa dibuat dengan cara yang mudah dari menuliskan di buku To Do List hingga berupa satuan rencana kerja yang comprehensive. Dalam hal ini kita buat dalam bentuk yang mudah ya sebagai contohnya.

Sebelum membuat Plan, maka mulai dengan Objective yang akan dicapai. Harus tau tujuan mau kemana baru bisa bikin rencana kesana. Jangan sampai sudah bikin Plan pas ditanya mau kemana jawabannya, belum tau yang penting dibuat dulu aja hehehehe

Contoh:

  • Objective : Mencapai Target Harian
  • How To Achieve : dengan meningkatkan jumlah Traffic Masuk dan Mempertinggi Conversion Rate

Plan :

Meningkatkan Traffic Masuk

  1. Bagi Brosur di Pintu Masuk Utama pada Jam Utama yaitu Jam 12 siang dan Jam 7 Malam.
  2. Staff melakukan greeting didepan pintu masuk store

Mempertinggi Conversion Rate

  1. Melakukan Role Play Shift Briefing
  2. Meletakkan Highlights Item pada lokasi yang terlihat

Plan bisa ditulis di WhiteBoard dan yang paling penting dari Plan adalah di Komunikasikan ke seluruh team dan dijelaskan role masing-masing team member sehingga mereka tau dan paham apa yang harus mereka raih dan harus dikerjakan.

B. Do

Setelah punya Plan dan sudah dikomunikasikan, maka yang harus dilakukan adalah Mengerjakannya! Yup, lakukan sesuai dengan Plan. Kegagalan dari sebuah rencana paling sering karena tidak dikerjakan. Seringkali tergoda untuk bekerja tanpa rencana dibanding dengan rencana sehingga rencana yang dibuat ga lebih dari tulisan kertas yang tak berguna.

Lakukan apa yang didalam Plan secara sungguh-sungguh karena saat kita membuat Plan kita berharap 100% effort dikerjakan.

Nah dalam setiap pelaksanaan pastikan selalu dikumpulkan data dari hasil kerjaannya sehingga bisa kita ukur dan evaluasi.

C. Check

Dalam proses Check, yang perlu dievaluasi adalah 3 (tiga) hal

  1. Progress Kerja, apakah yang ada di Plan sudah dikerjakan?  Lihat Plan list nya, yang sudah dikerjakan bisa diberikan tanda entah itu dicoret ataupun.
  2. Review Hasil, lakukan review secara dalam atas hasilnya mulai dengan Tanya Why? Dan terus explore sampai mendapatkan akar dari masalahnya.
  3. Face Brutal Facts, apapun hasilnya terima dan ini menjadi bahan kita selanjutnya.

Proses Check yang baik akan menghasilkan perbaikan dimasa yang lebih baik lagi. Lakukan check secara comprehensive atas setiap fakta yang didapatkan dari hasil pengerjaan.

D. Act

Hasil dari review dari Check dijadikan langkah untuk kedepannya.

  • Jika hasilnya bagus, apakah dilakukan lagi dengan cara yang sama? Atau butuh penyesuaian?
  • Jika hasilnya tidak bagus, apakah harus diperbaiki cara eksekusinya? Atau mengganti caranya?

Evaluasi seluruh keadaan baik saat Plan itu dieksekusi dan sesudahnya, lihat apakah ada perubahan pada factor-faktor saat kita melakukan Plan diawal. Atau ada yang kita tidak pertimbangkan?

PDCA, berbentuk Wheel, setiap process saling terkait, untuk itu kesinambungan process dan kualitas dari hasil setiap proses akan mempengaruhi proses selanjutnya. Saat pertama kali melakukan adalah wajar jika terjadi kurang sempurna dibeberapa sisinya. Namun selama dilakukan secara konsisten maka ini akan menjadi culture dalam setiap kerjaan kita.

Gimana? Lets do it Guys!

Tinggalkan komentar

Shift Briefing : Its Tactical Brief!

Setiap pergantian Shift merupakan moment penting dalam retail store. Seorang Store Manager (STM) atau Shift leader harus memanfaatkan Shift Briefing (SB) secara maksimal. Namun jangan kaget, dengan berbagai alasan, kegiatan ini sering hanya menjadi formalitas dan sekedarnya bahkan tak jarang juga hanya menjadi ajang curhat dan motivasi atau malah tidak dilakukan sama sekali dengan alasan sibuk.

Joke dikalangan team sales itu adalah Jika ga paham mau ngapain dan ga tau mau bikin apa maka cara paling efektif adalah Motivasi! Hehehehhe bener ga?

Agar efektif, dibawah ini adalah hal-hal yang harusnya dilakukan saat SB.

1. Performance Update

Beritahukan berapa target kita dan berapa yang sudah kita capai serta berapa yang harus kita capai hari ini. Akan lebih baik lagi jika ada tempat dimana menempelkan lembaran perkembangan pencapaian target baik itu sales, traffic hingga putaran barang atau key point yang menjadi Performance Indicator. Sehingga membantu team untuk selalu focus terhadap apa yang harus mereka capai.

Dengan Performance Update kita jadi tau Performance Gap yang harus kita capai.

2. Performance Evaluation & Feedback

Start dari apa yang sudah dilakukan, list down hal-hal yang sudah dilakukan. Kemudian evaluasi hasilnya satu persatu. Saat evaluasi lakukan secara data hindarkan penjelasan saja tanpa ada verifikasi data atau paling tidak bisa diukur.

Contoh kemarin sudah telp existing customer, namun tidak ada response. Maka yang harus di eksplor adalah berapa customer yang sudah ditelp? Jam berapa telp nya? Siapa customer nya dan apa saja response mereka?

Fungsi evaluasi adalah mengetahui apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dilakukan serta melakukan review atas hasil dari yang sudah dilakukan. Ini sangat penting, karena akan menjadi panduan perbaikan dan strategi kedepannya.

3. Tactical Action

Nah setelah tau Performance Gap kita, maka ini menjadi Objective yang harus kita capai sedangkan hasil Performance Evaluation & Feedback menjadi panduan dalam membuat tactical action.

Dalam memberikan Tactical Action, sesuai dengan namanya harus bersifat taktis atau sesuatu yang bisa langsung dikerjakan saat itu juga dan diukur hasilnya. Berbeda dengan strategic yang bersifat makro dan ukurannya baru terlihat beberapa waktu kemudian.

Tactical Action harus bisa menjawab pertanyaan dibawah ini

  • Apa Yang Harus Dicapai
  • Apa Yang Harus Dilakukan
  • Bagaimana Caranya & Ukurannya
  • Siapa Yang Melakukan

Hindarkan model brief seperti dibawah ini

  • Hanya berisi kata kata motivasi
  • Bersifat Global seperti Mari sama-sama kita melakukan yang terbaik
  • Tidak Memiliki Ukuran Langsung
  • Tidak Bisa langsung dikerjakan saat itu juga
  • Ajang Curhat
  • Menjelaskan tanpa data

Gimana dengan SB nya? Sudah dikerjakan dengan baik? Jika belum yuk lakukan tools simple ini dan jika dilakukan secara konsisten maka bisa membantu mendongkrak Performance store mu.

Tinggalkan komentar

Basic Merchandise Management for Store Manager Level

Pengelolaan Merchandise adalah salah satu cara untuk mengoptimalkan Performance store kita. Merchandise Management sangat penting, dibawah ini adalah beberapa manfaat dari pengelolaan yang baik dan benar.

A. Increase Space Productivity

Space bagi retail store sangat penting, karena itu salah satu ukuran produktifitas bagi store adalah kemampuan memanfaatkan space yang ada dalam menghasilkan revenue yang disebut dengan Productivity per Square Meter.

Rumus Dasarnya adalah : Total Sales / Total Luasan = Productivity Per Sqm

Dalam perkembangannya, produktifitas space tidak cukup hanya diukur dari space secara umum bahkan untuk retail store yang memiliki bermacam Stock Keeping Unit (SKU) atau item, maka produktifitas diukur hingga ke rak atau shelf.

Dasar pemikirannya adalah semakin benar barang yang diletakkan maka customer akan membelinya dan jika barang tersebut rutin dibeli maka termasuk fast moving dan itu berarti aliran revenue yang masuk makin lancar.

Ini artinya kita meletakkan barang yang tepat pada lokasi yang tepat diwaktu yang tepat.

B. Menurunkan Dead Stock

Pengelolaan Merchandise Management yang baik bukanlah tentang adu banyak barang di sebuah store. Kemampuan mengenali putaran barang adalah salah satu key utama keberhasilannya. Secara umum status barang dibagi atas 4 (empat) kategori.

  1. Fast Moving atau biasa disebut dengan Green Light, Putaran Barang Cepat
  2. Medium Moving atau biasa disebut dengan Yellow Light, Putaran tidak terlalu cepat
  3. Slow Moving atau biasa disebut dengan Red Light, Putaran Lambat
  4. Dead Moving ini barang sudah sangat lambat cenderung tidak bergerak

Kategori barang diatas dilaporkan mulai dari level store hingga nasional sehingga menghindarkan pembelian berulang atau berlebih untuk barang-barang tersebut. Dengan demikian kita bisa memilki barang stock dengan tepat jumlah.

C. Mengenali Karakteristik Customer

Dari barang yang laku kita bisa mengenali karakteristik customer kita. Kok bisa? Secara detail akan dibahas diarticle berikutnya ya. Apa yang dibeli oleh seorang menggambarkan Needs yang mereka butuhkan. Perbedaan barang yang dibeli untuk kategori yang sama menunjukkan Kemampuan beli mereka dimana Wants nya harus dicari dengan survey atau customer feed back.

Jika dianalisa lebih advance maka kita bahkan bisa memperkirakan apa yang akan menjadi sumber revenue kita beberapa bulan kedepan, mana yang harus kita ganti serta apa yang perlu kita tingkatkan. Apalagi jika kita menjalankan strategi Customer Retention, maka kemampuan mengelola merchandise management sampai dengan tingkat customer bisa menghasilkan personal approach yang powerful.

Gimana? Sudah mulai kebayang? Next Article kita bahas lebih teknis ya.

Tinggalkan komentar

Hal-hal Kecil Yang Merusak Brand

Dalam keseharian operational sebuah usaha banyak hal-hal yang terlihat sepele dan kecil namun punya efek besar bagi Brand. Seringkali orang menganggap bahwa Brand itu hanyalah sebatas logo saja. Padahal Brand itu adalah Total Experience dari setiap titik temu Brand dengan Pelanggan. Mulai dari sebelum membeli (tahap pencarian), saat akan membeli, saat membeli dan hingga setelah membeli. Semua pengalaman interaksi itu akan menjadi pengalaman yang membentuk persepsi terhadap Brand.

Hal-hal kecil dibawah ini yang sebetulnya bisa dikontrol langsung via Store Manager (STM) atau UKM level dan dipastikan keseragaman implementasinya melalui Standard Operating Procedure (SOP) yang dibuat oleh Head Office (HO)

1. Seragam Kerja

Sering liatkan masuk ke store yang bagus banget serta terlihat mewah namun begitu melihat seragam karyawannya sudahlah pudah seringkali malah terlihat bulukan. Jadi berbanding terbalik dengan persepsi yang kita harapkan bukan?

Kenapa ini bisa lolos? Banyak perusahaan menganggap seragam adalah tanggung jawab karyawan semata dan seringkali malah jadi beban karyawan. Itu mengapa ga heran banyak juga perusahaan yang membebankan biaya seragam kepada karyawan yang baru masuk. Akhirnya kualitas seragam tidak menjadi perhatian utama perusahaan lagi. Atau ada yang hanya memberikan 2 (dua) stel seragam kepada karyawannya. Padahal mereka akan masuk kerja 6 (enam) hari kerja. Kebayangkan jika dicuci tiap hari gimana ga cepet bulukan? Atau malah kalo ga dicuci tiap hari bau itu baju kayak apa ya?

Demi menekan ongkos seragam yang jadi korban adalah investasi ratusan hingga milyaran rupiah di Brand building.

2. Kebersihan

Ini hal yang sangat krusial tidak hanya terkait soal keindahan namun juga soal kesehatan. Pernah ketemu ga ada bercak tangan di gelas? Atau ada noda hitam di sela sela garpu? Bahkan piring atau gelas yang masih bau sabun? Wuihhhhh itu selera makan hilang sudah! Tidak hanya diusaha kuliner, di usaha yang lain juga bisa terjadi seperti kebersihan Toilet dan westafel. Ya, itu bagian dari Experience yang membentuk Brand!

Ada beberapa company yang mulai membangun image higienis dengan mengharuskan staff nya menggunakan sarung tangan saat membuat adonan kue hingga mengambil kue nya. Namun sangat disayangkan adalah staff tersebut juga memegang hal yang non kue saat menggunakan sarung tangan. Seperti mengangkat baskom, mengusap wajah dan bahkan yang sering kelupaan adalah mengangkat piring dan gelas yang ada di meja setelah pelanggan pergi. Lah kalo begini letak higienis nya dimana?

3. Penanganan Produk

Barang mahal harusnya diperlakukan seperti barang mahal dan barang yang penting harusnya diperlakukan seperti barang yang penting. Coba masuk ke toko jam mahal, lihat cara mereka perlakukan produknya, sangat hati-hati sekali. Mulai dari pake sarung tangan hingga ada baki atau nampan untuk meletakkannya. Atau saat kita beli TV, tak jarang kita lihat yang membuka kardus dan menarik TV nya terkesan kasar sekali. Walau mungkin secara teknis aman dan secara pengalaman mereka sudah biasa, namun tetap untuk kita sebagai pelanggan merasa “eitsss ini barang bagus! Gw bakal beli mahal, hati-hati dong”

Pemahaman atas produk dan market nya akan membantu kita para staff lapangan dalam memperlakukan treatment atas barang tersebut.

4. Body Gesture

Attitude salah satu yang umum terjadi karena ini merupakan gabungan kebiasaan kerja dengan kepribadian. Coba lihat ada toko baju yang selalu memanggil orang yang lewat untuk masuk. Nah saat kita melihat ke mereka ternyata mereka memanggil sambil melipat baju! Ada juga yang dari jauh kita lihat mukanya cemberut dan pas didepan kita langsung tersenyum, terlihat palsu dan tidak tulus ya.

Body Gesture ini perlu dilatih mulai dari ekspresi wajah, intonasi hingga gerakan badan. Karena ini menjadi pesan terkuat atas apa yang disampaikan. Role Play yang rutin dan  secara konsisten dilakukan akan membantu membentuk Body Gesture yang baik.

5. Material Promosi

Sering ga melihat ada kertas putih di temple trus ditulis “Sale” ? masih lumayan kalo hasil fotocopy malah yang parah ditulis pake spidol dimana tulisannya juga ga begitu bagus. Biasanya dilakukan di level store karena mereka butuh tools namun tidak ada dana atau resources untuk membuatnya.

Atau jualan barang mewah namun hadiah langsungnya jelek sekali atau tidak berfungsi seperti tinta pulpen yang ga jalan hingga calendar yang salah cetak. Nah hal-hal begini mengurangi nilai persepsi atas Brand kita.

6. Kartu Nama

Sekantor kok kartu nama sudahlah bahannya beda, warna beda bahkan yang parah adalah layoutnya juga beda! Loh Kartu nama itu bagian resmi dari identitas perusahaan loh. Sangat penting untuk terlihat perfect! Kalo beda-beda gitu bisa dianggap tidak professional nanti. Ngurus kartu nama aja ga bisa apalagi ngurus yang lain?

7. Alamat Email

Punya kantor, punya Brand, punya web tapi alamat email masih public domain seperti yahoo, gmail? Mestinya sudah pake corporate domain. Simple tapi itu bagian dari identitas perusahaan. Dan bagi UKM ini tidak mahal dan kompleks kok. Sebuah domain dan web hanya bayar $18 per tahun di www.wordpress.com dan alamat emailnya bisa dibuat dengan gratis via www.outlook.com tidak terbatas jumlah account yang bisa dibuat dan sudah berikut dengan web apps dari Microsoft Office dan media penyimpanan versi cloud sebesar 7 (tujuh) Giga! Mestinya tidak ada alasan untuk tidak punya bukan?

Diatas adalah beberapa hal-hal kecil yang sering terlewatkan atau dianggap sepele namun memiliki efek yang besar dalam pembangunan Brand kita. Lihat lagi, mana yang sebagai STM kita bisa perbaiki dan mana yang bisa kita rekomendasikan.

Tinggalkan komentar

Cara untuk Bisa Bankable bagi UKM

Article kali ini melompat dari store manager (STM) level ke para Pengusaha. Banyak Pengusaha yang mengeluh tentang sulitnya mendapatkan pinjaman modal ke bank. Atau juga mengeluh bahwa pemerintah tidak peduli dengan usaha kecil menengah (UKM) karena tidak mendapatkan bantuan modal dari pemerintah. Sebetulnya untuk menjawab masalah ini mari kita balik cara bertanyanya.

Jika kita adalah Pemberi Pinjaman, bagaimanakah kita menentukan sebuah usaha itu pantas diberikan pinjaman? Dalam hal ini, tentu kita berharap uang yang kita pinjamkan kembali dalam waktu yang sudah kita sepakati bersama bukan?

Jawaban tersebut coba dibandingkan dengan usaha yang kita miliki, apakah sudah memenuhi kriteria versi kita tersebut? Kenapa versi kita? Karena pinjaman modal itu tidak terbatas dari bank dan pemerintah saja namun juga dari investor yang dalam hal ini tidak terbatas mulai dari tetangga, sahabat hingga orang tua kita.

Secara umum yang mesti diperhatikan oleh Pengusaha UKM dalam mempersiapkan usahanya untuk mendapatkan pinjaman modal adalah sebagai berikut:

A. Bentuk Usaha atau Business Plan

Setiap usaha baik yang sudah berjalan ataupun masih dalam tahap perencanaan, harus jelas :

  1. Apa yang mau dijual
  2. Siapa pembelinya
  3. Alur supply chain
  4. Siapa yang kelola
  5. Bagaimana cara menjualnya

Itu beberapa hal yang sering ditanyakan, namanya tahap mengenal jati diri orang. Kan mau minjemin uang tentu harus kenal bukan?

B. Laporan Keuangan

Setiap usaha harus memiliki laporan keuangan yang jelas dan terpisah antara keuangan usaha dan pribadi. Kenapa ini penting? Karena keberlangsungan usaha salah satunya adalah keberhasilan mengelola uang.

Bentuknya seperti apa? Tenang tidak perlu sekompleks laporan keuangan modern namun minimal punya hal-hal dibawah ini:

  1. Buku Kas yang berisi laporan uang masuk dan keluar
  2. Bukti bon atas setiap transaksi uang keluar walau hanya di secarik kertas sobekan biasa
  3. Rekening terpisah antara uang pribadi dan uang usaha

Itu adalah basic laporan keuangan yang sangat penting. Ya itu alur keluar masuk uang yang tercatat dan bisa dipertanggung jawabkan secara jelas atau bahasa kerennya adalah Ready for Audit. Jika ada rejeki lebih, membuatnya dalam bentuk softfile seperti excel akan sangat membantu untuk mempermudah dalam melakukan review atas pengelolaan uang serta bisa dengan mudah untuk membuat Laporan Keuangan Sederhana.

C. Pencatatan Aset dan Barang Supply (Barang Modal)

Barang yang merupakan barang modal harus punya catatan berupa daftar asset dan stock card. Kenapa karena Barang Modal merupakan barang yang akan digunakan untuk menghasilkan uang kembali. Dan Barang Modal itu sama dengan uang yang terpendam untuk itu pastikan untuk tidak hilang karena salah kelola.

Bentuknya mudah bisa menggunakan sebuah buku untuk mencatat, penerimaan dan pengeluaran barang. Yang penting jelas ada tanggal serta orang yang menerima dan yang mengeluarkan. Secara periodic sesuai dengan jenis usahanya dilakukan pengontrolan atas ke akuratan pencatatan dengan stock secara fisik yang dikenal dengan stock check atau stock opname.

Mulailah dari 3 (tiga) hal diatas, maka jika masih sulit mendapatkan pinjaman dari bank namun sudah ready untuk pinjaman seperti koperasi, investor personal hingga dana CRM dari company-company besar.

Hal diatas bagian tersulitnya adalah memulai mengerjakan dan konsisten mengerjakannya. Begitu bangun perusahaan yang perlu kita ingat adalah uang perusahaan adalah uang perusahaan, jika kita ambil uang perusahaan maka sama saja dengan menarik modal kita. Yang boleh kita ambil adalah hanya keuntungan bersih perusahaan.

Lets do it!

Tinggalkan komentar

Report : Tools Penting yang Paling di Benci

Aduhhh.. banyak Report neh.. ada Report ini lah, itulah, mana harus jualan, belum itu, belum ini dan belum banyak lagi. Ini keluhan umum kita orang lapangan ya. Paling males kalo disuruh bikin Report. Kalo bisa orang di Head Office (HO) kita itu seperti malaikat yang nyatet amal, niat dalam hati aja dia tahu dan catet hehehehhee

Dilain pihak kita juga sering mengeluh, kenapa sih orang HO itu bikin program kayak gini? Disini ya ga laku! Kita orang store malah ga dilibatkan dalam membuat program. Atau kita ngomel bilang, Report jangan dilihat, kenyataan ama kertas ya beda jauh mas! Turun lapangan dong! Bener ga kita suka bilang begitu?

Report adalah salah satu cara store memberitahukan ke HO apa yang terjadi di store nya. Ke akuratan dari Report ini sangat bergantung dari data input yang diberikan oleh store. Jika yang masuk sampah ga heran output nya juga jadi sampah. Dan Report juga harusnya menjadi dashboard bagi seorang store manager (STM) untuk melakukan review atas store performance nya. Jika ini dilakukan dengan benar maka keluhan diatas harusnya sudah tidak ada sama sekali.

Dibawah ini adalah 3 (tiga) Hal umum yang mengakibatkan Report paling dibenci adalah:

1. Dokumen atau Pencatatan Input yang tidak tertata

Banyak pengerjaan Report yang terasa ribet, seperti Report stock vs sold. Ini Report mengharuskan kita untuk melihat jumlah stock yang laku dan mencocokkan jumlah yang keluar baik dengan invoice penjualan maupun dengan surat mutasi barang. Nah ini makin ribet jika selama ini dokumen input nya juga berantakan. Seperti kertas file yang tersebar hingga tidak dilakukan file management yang benar.

Solusi nya, tatalah dokumen input dengan benar. Administrasi yang rapi akan membantu mempercepat dan akurasi proses Reporting. Mulai dengan menyusun berdasarkan jenis dan tanggal. Kita bahas nanti di article berikutnya terkait dengan filling management.

2. Serba Manual

Banyak Report dibuat secara manual entah itu dibuku tulis hingga di kertas kerja. Kesulitan dalam bentuk Report seperti ini adalah saat akan merekap ke computer, karena harus mengetik ulang semuanya. Dan ini sudah pasti jadi double kerjaaan dan sangat membosankan dikerjakan. Kecuali perusahaan tidak melengkapi dengan computer yang proper, maka sangat disarankan untuk menuliskan seluruh Report dalam bentuk softfile dan mencetaknya sebagai hard copy jika diperlukan.

Ingat yang butuh bentuk tertulis manual hanya hal-hal yang sifatnya subject to audit seperti lembaran serah terima, stock card dan hal hal yang perlu ditanda tangani. Bahkan untuk beberapa hal kwitansi sudah bisa dicetak namun tetap ditanda tangani manual.

Penggunaan software seperti Excel sangat disarankan dibandingkan Open Office, selain atas banyaknya yang menggunakan juga karena kemampuan olah datanya sangat mumpuni yang akan mempermudah pekerjaan.

3. Tidak Paham Fungsi Report

Nah ini hal paling umum, banyak sekali yang membuat Report karena rutinitas atau karena diperintah. Sehingga menganggap Report adalah kepentingan audit atau kepentingan orang HO sedangkan di store tidak perlu Report karena yang penting jualan dan laku beres!

Report adalah dokumentasi dari kinerja. Dan seorang STM harus melakukan review berdasarkan dokumentasi kinerja. Nah didalam Report terdapat kumpulan fakta yang bisa dibahas bersama. Seperti barang apa yang dead moving, kapan terakhir keluar, barang apa yang fast moving, harga berapa yang laku, siapa pembeli terbanyak hingga berapa besaran transaksi rata-rata per orang.

Orang harus bicara data, STM sering terjebak dengan Motivator Role dimana focus memotivasi saja padahal tekad yang kuat tanpa disertai pengetahuan memecahkan masalah sama saja tidak maksimal. Belajar untuk selalu bicara fakta dan data. Jika kita bilang traffic turun, maka sebutkan dari berapa ke berapa dan berapa yang tertinggi, jam berapa yang turun.

Semakin detail kita tahu data dan fakta maka semakin terarah kita melakukan keputusan. Jika tidak suka dengan angka, maka selalu ingat Retail is Detail dan Bicara Tanpa Data itu seperti Nebak kadang bener seringkali impian.

Nah, sekarang coba list down your Report, jika bingung cara review nya bisa email Report kamu ke service@opsmarketer.com nanti team kita akan bantu untuk kasih tahu cara review nya.

Tinggalkan komentar

Simple Business Development Tools for Store Manager Level

Pada article sebelumnya kita bahas tentang pola berpikir yang diperlukan dalam Business Development (BD). Nah sekarang kita akan bahas tentang tools simple yang bisa digunakan oleh Store Manager (STM) level dalam melakukan location review yang nantinya akan menjadi pertimbangan dasar dalam memutuskan apakah akan investasi atau tidak, seberapa besar size nya dan sebagainya.

Location Review adalah step awal dalam BD proses dan ini proses yang sangat mendasar namun penting. Begitu review ini salah maka seluruh proses menjadi sia-sia dan ingat BD memiliki resiko investasi yang harus dipertanggung jawabkan untuk itu akurasi input merupakan kewajiban mutlak.

Secara umum tools berikut ini merupakan perkiraan dimana tingkat akurasinya perlu diverifikasi dengan study yang lebih layak. Tools ini sangat cocok sebagai pre location review. Berkembangnya skill dari Surveyor dalam hal ini STM akan mempertajam hasil dari location review nya.

A. Benchmarking

Cara paling mudah dalam melakukan location review adalah memberikan Standard sebagai pembanding (Benchmark) Contoh : Store kita adalah punya Target Market class B to A. Nah store yang punya Target Market yang sama dengan kita adalah misalnya adalah Store B dan C. Maka jika sebuah mall terdapat store tersebut maka kita bisa juga join disana selama performance store B dan C tadi juga bagus.

Faktor yang harus dipertimbangkan dalam Benchmarking:

  1. Kesamaan Target Market, Ini sudah mutlak
  2. Kesamaan Industry atau Category, Jualan baju bisa benchmark ke jualan celana, topi, aksesoris, jam, jewelry dimana ini semua secara general berada dalam fashion Industry dan saling komplementer.
  3. Kesamaan Behaviour, Jika Clubbing yang spending money untuk lifestyle dan refreshment tinggi maka store seperti jewelry hingga gadget bisa jadi tepat.
  4. Komplementer, selain saling melengkapi karena kesamaan Industry atau Category ada juga yang saling melengkapi karena proses, contoh Jika ada hyperMarket maka restoran, toko CD serta daily store cocok berada disana. Atau jika ada salon maka tempat bermain anak sangat pas dibuka, selama ibu nya nyalon anaknya maen.
  5. Kualitas company yang di benchmarking, pilih company yang besar dan bagus karena jika kita belum mampu lakukan BD Survey yang comprehensive dan mahal maka mereka yang mampu bisa jadi tandem kita memilih.

B. Survey Standard

Ini langkah bisa dilakukan sendiri atau sebagai tambahan tools Benchmarking. Survey Standard yang harus dilakukan adalah:

  1. Traffic Survey, lakukan minimal dalam periode 1 bulan dengan cara membandingkan 2 (dua) hari random weekdays dan 2 (dua) hari weekend selama 4 (empat) minggu. Catat pada 3 (tiga) periode jam yaitu 12 siang sd 14 siang, 16 sore sd 18 sore, 19 malam sd 21 malam.
  2. Pricing Survey, lihat harga-harga barang yang dijual disana bandingkan dengan harga barang kita. Contoh, jika rata-rata baju disana dijual maksimal 250 ribu maka membuka restoran dengan harga perporsi 40 ribu sangat tidak disarankan.
  3. Brand Survey, ini berkorelasi dengan pricing Survey. Jika lebih banyak local store maka biasanya pricing dan class pengunjung juga sama.
  4. Parkir Survey, untuk store yang menjual barang dalam volume besar maka besaran lahan parkir harus diperhatikan. Selain tentunya lihat kombinasi yang parkir perbandingan mobil dan motor. Bahkan lebih advance lagi bisa lihat jenis mobil yang parkir. Karena itu menggambarkan yang ada didalam mall nya. Lokasi parkir jadi sangat penting termasuk jika kita mau buka stand
    alone store.
  5. Lihat Tentengan Belanja, ini sepertinya tidak penting namun critical, jika yang lalu lalang tidak bawa tentengan maka kemungkinan besar banyakan windowshopping saja atau lebih laris restorannya. Karena jika belanja apapun yang sifatnya tidak bisa dikonsumsi ditempat maka mestinya bawa tentengan belanjaan.
  6. Competitor Survey, siapa saja kah yang sudah masuk dari competitor kita. Lihat resources yang mereka punya mulai dari lokasi serta kelengkapan product. Ini akan menentukan strategi kita masuk kesana. Karena mereka sudah punya captive Market.

Gimana? Tidak sulit bukan? Yuk dicoba ya lakukan BD tools diatas. Itu BD tools juga bisa digunakan untuk review mall kita sekarang, apakah masih potensi apa tidak? Dan review existing store salah satu fungsi dari BD!