1 Komentar

STP : Fundamental Marketing Tools

Segmentation, Targeting dan Positioning atau biasa disebut dengan STP adalah basic foundation dari sebuah strategi. Bagian ini terlihat penuh teoritikal dan boring serta sering dianggap ga begitu penting bahkan mirisnya di skip begitu saja.

Ini merupakan tools Strategic di Marketing yang menjadi kunci perjalanan startegi Brand atau Product tersebut dimasa yang akan datang. Yuk kita mengenal lebih dekat dengan STP ini.

Segmentasi

Segmentasi, kata ini sering sekali kita dengar dan seringkali bingung membedakan dengan Targeting. Bahasa mudah dari Segmentasi adalah cara kita melihat atau membagi pasar atau pelanggan. Sebagai contoh, kita bisa melihat pasar atau pelanggan atas kemampuan daya beli, ini yang kita kenal dengan A class, B class, C class dan D class. Dimana setiap class mewakili range daya beli dan angka range yang jamak digunakan adalah yang berasal dari Nielsen.

Segmentasi juga bisa dilihat berdasarkan Demografi seperti gender, usia, agama, latar belakang pendidikan hingga yang lebih advance seperti Lifestyle. Saat ini untuk memastikan perusahaan memberikan Product yang tepat kepada pelanggan yang tepat maka hal yang umum Segmentasi dibuat berdasarkan banyak kombinasi diatas.

Targeting

Setelah melakukan Segmentasi maka selanjutnya kita harus memilih bagian mana dari Segmentasi itu yang akan kita pilih. Nah memilih sebuah segmen untuk kita fokuskan disebut dengan Targeting. Kenapa kita harus memilih? Kita tidak bisa memberikan satu Product kepada semua orang karena setiap orang punya ekspektasi yang berbeda. Dan mungkin karena keterbatasan kita juga sulit menyediakan semua hal kepada semua orang.

Kunci dasar dari sebuah strategi adalah Fokus! Kenapa keterbatasan membuat kita harus mengalokasikan sumberdaya secara tepat guna sehingga menghasilkan impact yang maksimal.

Contoh: Segmentasi pasar adalah berdasarkan gender, pendidikan dan daya beli. Setelah melihat potensi pasar serta kemampuan kita untuk memberikan Product maka kita memilih Target Market yaitu Perempuan dengan tingkat pendidikan S1 keatas dan penghasilan 5 juta.

Bagaimana melakukan Targeting yang tepat? Yang sangat disarankan adalah dengan melakukan riset dan review atas resources yang kita miliki dan market yang akan kita hadapi. Ingat STP adalah fundamental Strategic.

Untuk membantu melakukan Targeting secara simple jika tidak memiliki kemampuan riset akan di Share pada tulisan yang lain. Namun sekali lagi sangat disarankan untuk dilakukan secara proper.

Positioning

Nah ini bahasa mudahnya adalah reason to buy atau jawaban dari pertanyaan Kenapa saya harus beli Product anda? Atau kenapa saya harus memilih anda dibanding competitor anda?

Setiap Product yang akan dikirim kepasar harus memiliki alasan untuk dibeli. Bahkan komoditas pun memiliki alasan untuk dibeli walau sangat simple seperti “kudu dibeli” alias kebutuhan pokok. Apalagi jika kita memilih Target Market yang sudah punya banyak pilihan (mainstream).

Kegagalan melakukan Segmentasi dan Targeting biasanya berakhir dengan Positioning pamungkas yaitu HARGA >.< , yah ini seharusnya hanya menjadi bagian dari Tactical namun banyak sekali perusahaan atau Brand yang berakhir menjadi Life Time Tactical sehingga secara otomatis menjadi Positioning mereka. Tidak heran mereka melakukan Everyday Discount hingga temen-temen di store bilang harga label itu cuman formalitas hiksss

Pilihlah Positioning yang bisa membuat mereka mengingat Product anda atau Brand anda. Karena hasil akhir dari tools STP adalah memenangkan Mind Share alias menjadi Top of Mind (TOM). Sehingga setiapkali calon pelanggan ingin membeli sebuah barang yang mereka butuhkan mereka ingat Product atau Brand anda.

Secara detail dalam memilih Positioning akan kita bahas pada sharing tulisan berikutnya.

Nah sekarang, coba lihat yuk apakah kita sudah melakukan dan memiliki STP?

Tinggalkan komentar

Conversion Rate Sebagai Alarm Awal Performance

Conversion Rate adalah tools untuk mengukur seberapa efektif kita memanfaatkan potential traffic yang datang ke store kita. Secara umum bentuk laporan Conversion Rate adalah sbb:

  1. Jumlah Traffic In : Ini adalah jumlah traffic yang masuk kedalam store kita
  2. Jumlah Look : Ini adalah jumlah traffic yang masuk dan berkeliling melihat lihat koleksi kita
  3. Jumlah Try : Ini adalah jumlah traffic yang mencoba koleksi kita
  4. Jumlah Buy : Ini adalah jumlah traffic yang melakukan pembelian

Biasanya semakin kebawah, jumlah traffic yang pindah ke proses berikutnya akan semakin berkurang. Kemampuan memindahkan traffic dari setiap proses ini yang disebut dengan Conversion Rate.

Ukuran utama Conversion Rate yang paling sering digunakan adalah mengukur ratio jumlah traffic yang membeli dengan traffic yang masuk ke store :

(Total Traffic Buy) / (Total Traffic In) = Effective Traffic (Conversion Rate)

Hasil diatas diukur dengan percentage dimana semakin tinggi nilainya maka semakin efektif kita memanfaatkan potential traffic yang datang ke store kita.

Contoh:

Total Traffic In : 100 , Total Traffic Look : 80, Total Traffic Try : 50, Total Traffic Buy : 10

Conversion Rate nya adalah 10 / 100 = 10%

Sedangkan selisih berkurangnya traffic ini disebut dengan Customer Gap dimana sebagai seorang marketer maupun store manager kita harus berusaha mencari tau apa yang menjadi Gap bagi Customer. Dimana pada contoh diatas berarti 90% dari Traffic In tidak sampai melakukan transaksi.

Kesalahan umum pada Conversion Rate ini adalah:

  1. Tidak dihitung alias dibiarkan, kebayangkan gimana bisa benerin store nya kalo masalahnya saja ga tau
  2. Data tidak valid, sering dengan alasan sibuk staff store mengisi asal-asalan dengan slogan asal report jadi atau asal bos seneng, padahal data yang salah adalah data sampah dan ga usah kaget kalo nanti keputusan dari Head Office juga sampah
  3. Conversion Report dibuat namun tidak diikuti dengan menganalisa Trend perubahan atas Traffic baik penurunan atau kenaikan dan atau tidak mencari tahu lebih lanjut tentang Customer Gap, ini seperti tahu kapal bocor tapi tidak mau repot mencari asal kebocoran apalagi melakukan action buat nutup bocornya hasilnya? Tenggelam sudah pasti! Kapannya tergantung besar kecilnya kebocoran.

Nah gimana dengan store kita? Sudah melakukan perhitungan Conversion Rate? Atau menunggu sampai terlambat?

Tinggalkan komentar

Join @Opsmarketer Line Group

Salam Opsmarketer!

Kami mengundang anda untuk bergabung di Line Group @Opsmarketer, dimana tujuan dari group ini adalah untuk membentuk komunitas yang memiliki keinginan Learning, Sharing and Networking. Group ini sifat nya social knowledge yang berarti tidak hanya terbatas untuk berdiskusi namun juga untuk saling mengenal satu sama lain (berinteraksi social).

Aturan Dasar Group adalah:

  1. Diskusi utama adalah terkait dengan Retail Operation, Sales dan Marketing
  2. Kedewasaan berdiskusi sangat diutamakan dimana saling menghormati dan menerima perbedaan pendapat serta tidak melakukan Personal atau Company Attack, Memberikan Pendapat bukan Memaksakan Pendapat
  3. SARA & Pornografi tidak dibenarkan kecuali terkait dengan pembahasan strategi dan keilmuan sesuai dengan point satu diatas
  4. Posting Foto Makanan dan Personal tidak dibenarkan kecuali terkait dengan pembahasan strategi dan keilmuan sesuai dengan point satu diatas
  5. Hindarkan Posting Singkat (One Liner) agar bias menjaga keborosan notifikasi. Sangat disarankan untuk membuat setting notifikasi menjadi mute jika diskusi berjalan ramai demi kenyamanan pribadi
  6. Gunakan Avatar Diri dan Nama Asli untuk membantu proses sosialisasi yang lebih erat
  7. Inviation ke Group dilakukan satu pintu via Moderator dan mengikuti tata cara bergabung dibawah ini.
  8. Moderator berhak tanpa berkewajiban menjelaskan untuk mengeluarkan dari group jika melanggar salah satu dari point Aturan Dasar Group
  9. Hal-hal lain yang belum diatur dalam aturan dasar akan menjadi diatur oleh Moderator

Cara Bergabung :

  1. Add Line ID ronaldsipahutar (Moderator Group)
  2. Kirim pesan ke ronaldsipahutar permintaan bergabung ke group
  3. Mengisi data pada link berikut http://sdrv.ms/17eSy8d , data ini hanya untuk kepentingan Networking bukan untuk spamming (kecuali mencentang persetujuan untuk subscribe) serta memastikan bahwa yang bergabung benar benar berniat untuk Learning, Sharing & Networking.
  4. Moderator akan melakukan review pada file data dan hanya menginvite ke group yang sudah mengisi secara lengkap
  5. Memperkenalkan diri kepada member group dengan format : [Nama]/[Company]/[Lokasi Tinggal]/[Twitter Account] , contoh : Ronald Sipahutar/Opsmarketer/BSD/@ronaldsipahutar

Selamat Bergabung 🙂

Tinggalkan komentar

Stock Card : Dokumen Penting Yang Sering Dilupakan

Stock Card atau biasa dikenal sebagai Kartu Stock merupakan Tools yang sangat mendasar dan sederhana dalam pengelolaan Inventory namun sangat penting.

Fungsi dasarnya adalah mencatat pergerakan keluar masuk inventory. Secara simple, stock card itu akan berisi beberapa kolom utama yaitu:

  1. Tanggal : Berisi catatan tanggal penerimaan dan pengeluaran
  2. Keterangan : Penjelasan atas pergerakan barang baik keluar maupun penerimaan
  3. In (Masuk) : Ini adalah kolom untuk menulis jumlah yang diterima
  4. Out (Keluar) : Ini adalah kolom untuk menulis jumlah yang keluar
  5. Balance (Saldo) : Ini adalah kolom selisih antara Stock Awal setelah ditambah dengan penerimaan atau dikurangi dengan pengeluaran yang hasilnya disebut dengan Stock Akhir
  6. Paraf : Ini adalah kolom verifikasi yang menerima atau yang mengeluarkan

Sangat penting untuk selalu mengisi stock card secara rutin dan benar. Stock Card adalah data awal yang akan menjadi acuan pada semua proses selanjutnya, mulai dari sebagai alat verifikasi penjualan barang, analisa perhitungan Inventory Turn Over hingga Aging of Inventory. Data Stock Card yang tidak di update secara berkala dan diisi dengan benar akan menjadikan data berikutnya menjadi menyesatkan bahkan tidak berguna.

Stock Card itu adalah salah satu tools yang menjadi subject to audit yang artinya :

  1. Kita tidak boleh bermain main dan anggap remeh dokumen penting ini.
  2. Perubahan pada stock card tidak boleh di Tipex dan harus diparaf baik oleh yang merubah dan supervisor atau manager level di store.
  3. Stock Card harus mudah diakses serta harus disimpan sesuai dengan periode yang sudah ditentukan baik oleh policy perusahaan atau petunjuk dari team auditor.

Untuk store level, stock card seharusnya tidak hanya sebagai catatan keluar masuk barang namun bisa menjadi analisa dasar dalam pengelolaan persediaan.
Contoh:

  1. Via stock card kita bisa mengetahui barang mana yang fast moving dan mana yang slow moving
  2. Via stock card kita bisa memprediksi kapan stock barang kita akan habis dan kapan harus melakukan order agar saat barang diterima stock masih mencukupi serta berapa jumlah barang yang harus di order
  3. Lihat tulisan ttg Inventory Turn Over dan Aging of Inventory untuk lihat hal lain manfaat dari stock card.

Nah kaget ya dengan banyak nya fungsi dari sebuah stock card yang simple? Implementasinya kita bahas pada tulisan yang lain ya.

Now your job, please check your stock card dan mulai lakukan review simple ya.

Tinggalkan komentar

Productivity Review

Productivity adalah salah satu indicator kesehatan sebuah store. Dimana pengukuran ini untuk melihat seberapa efektif dan efisien sebuah store dikelola dibandingkan dengan resources dan result yang dihasilkannya.

Dimensi yang dilihat sangat luas dengan dua basic pengukuran yaitu Sales dan Cost. Rumus dasarnya adalah:
(Total Sales atau Cost) / (Dimensi yang ingin diukur) = Productivity

Contoh:
Dimensi yang ingin diukur adalah, Berapakah Productivity Sales saya per Square meter?
Total Sales 100 juta dan Luas store adalah 10sqm maka hasilnya adalah 10 juta per sqm productivity nya.
atau, dimensi yang ingin diukur adalah, Berapakah Productivty Cost saya per Square meter?
Total Cost 30 juta dan Luas store adalah 10sqm maka hasilnya adalah 3 juta per sqm productivity nya.

Apa artinya data diatas? Cara bacanya begini, setiap sqm yang kita miliki menghasilkan 10 juta rupiah sales dengan biaya 3 juta per sqm. Apakah ini bagus atau tidak? Maka kita harus bandingkan dengan productivity dari store yang lain atau nasional benchmark.

Contoh:
Store A dengan luas 100 sqm menghasilkan sales 500 juta
Store B dengan luas 50 sqm menghasilkan sales 300 juta

Secara simple kita akan bilang bahwa Store A lebih baik dari Store B, namun hal berbeda jika kita lihat productivity nya.

Store A : 500 juta / 100 sqm = 5 juta/sqm
Store B : 300 juta / 50 sqm = 6 juta/sqm

Nah dengan begini kita jadi tau ternyata harusnya Store A dengan luasan 100 sqm seharusnya bisa menghasilkan sales 600 juta.

Perhitungan productivity sangat penting untuk mengukur dan membandingkan kinerja antar store sehingga kita bisa melihat seberapa productive sebenarnya store kita serta apa yang harusnya kita capai.

Yuk kita coba ukur store kita 🙂

Tinggalkan komentar

Aging of Inventory

Aging atau dikenal dengan umur barang adalah salah satu ukuran untuk mengontrol persediaan atau inventory kita di store dan Head Office (HO).

Pengukuran paling dasar dalam Aging adalah:
Tanggal Stock Barang  – Tanggal Penerimaan Barang = Umur Barang (Aging)

Contoh:
Tanggal melakukan stock opname adalah 17 Agustus 2013
Tanggal barang tersebut diterima adalah 17 Agustus 2012
Maka umur barang adalah 12 bulan atau 1 tahun

Dengan mengetahui berapa lama umur barang tersebut dalam inventory kita, maka kita bisa menghindarkan terjadinya penumpukan barang hingga menghindarkan resiko penyimpanan seperti rusak. Dan juga bisa menjadi ukuran apakah sebuah barang tersebut dianggap tidak bergerak (Non Moving) atau sangat laris (Fast Moving).

Untuk barang perishable atau yang mudah rusak, perhitungan aging ini membantu menjaga cycle First in First Out (FIFO). Sedangkan untuk barang yang berdasarkan atas trend atau mode maka ini bisa jadi penentu untuk melihat apakah out of date atau masih update.

Secara nasional dengan mengetahui umur barang maka juga bisa membantu kita mengontrol pergerakan Harga Pokok Pembelian (HPP) terutama bagi barang yang HPP nya berubah mengikuti sebuah pergerakan harga. Contoh, Tinta Printer dimana harga beli nya dipengaruhi oleh nilai dollar. Atau import barang-barang yang tentu saja sangat bergantung dengan fluktuasi harga dollar.

Berapakah Aging yang baik? Ini sangat tergantung dengan jenis barang yang dimiliki serta model bisnis yang dijalankan. Yang penting dasarnya adalah kita harus tau umur sebuah barang karena akan membantu kita membuat keputusan yang tepat.

Contoh:
Buat Minimarket A, umur barang tidak boleh lebih dari 3 bulan. Lebih dari itu sudah dianggap Non Moving.
Namun untuk sekelas Hypermarket B , umur barang boleh sampai dengan 6 bulan baru dianggap Non Moving.

Yuk coba lakukan review di store dan gudang kamu 

Tinggalkan komentar

Inventory Turn Over (ITO)

ITO atau Inventory Turn Over adalah salah satu cara untuk mengontrol pengelolaan Inventory atau persediaan. Ukuran ini bisa digunakan baik untuk di store maupun di head office (HO)

Cara pengukuran ITO yang paling dasar adalah:

(Total Stock) / (Rata-rata Pemakaian) = Lamanya Putaran Barang (Turn Over)

Contoh:
Store A punya stock 1.000 pcs dengan rata-rata pengeluaran perbulan adalah 100 pcs.
Maka 1.000 / 100 = 10 bulan , kenapa satuannya bulan? karena pembaginya adalah rata-rata pengeluaran per bulan.

Apa arti dari angka diatas? Artinya Store A punya stock yang bila tidak diisi kembali baru akan habis dalam waktu 10 bulan kedepan. Ukuran ini bisa di bandingkan dengan ITO store lain dan benchmark ITO nasional untuk mengetahui apakah ITO store tersebut sehat dan aman?

Contoh:
Store B = 24 bulan , Store C = 30 bulan dan ITO nasional adalah 12 bulan.
Ini berarti Store A dibawah ITO nasional dan butuh penambahan stock minimal :
ITO Nasional – ITO Store = Jumlah putaran stock yg perlu ditambah atau dikurangi
12 bulan – 10 bulan = 2 bulan <– jumlah stock yang harus diisi.
Stock yang harus diisi/dikurangi = rata-rata pemakaian perbulan x selisih ITO
2 bulan x 100pcs = 200pcs stock yang harus diisi agar sesuai dengan standard nasional.

Kapankah sebuah ITO dianggap baik atau buruk?

ITO harusnya pas pasan, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Penyimpangannya disesuaikan dengan kebijakan masing-masing perusahan.

ITO yang terlalu cepat bisa berarti stock terlalu sedikit dan berpotensi kekurangan stock dan ini berbahaya bagi penjualan store karena tidak ada barang.

ITO yang terlalu lambat bisa berarti over stock dan berpotensi berakibat atas penumpukan modal, kenaikan biaya dan resiko penyimpanan hingga kemungkinan terjadinya kehilangan.

Bagaimana? yuk coba dengan perhitungan di store masing-masing

Tinggalkan komentar

Selamat Datang

Blog @OpsMarketer sedang dalam tahap pembangunan, silahkan follow @OpsMarketer untuk update perkembangan blog ini.

Untuk Layanan Informasi mengenai In House Training dan Consulting, silahkan mengisi contact form pada Tab Hubungi Kami diatas atau mengirimkan email ke info@opsmarketer.com