Tinggalkan komentar

CRM, Kalo Warteg Bisa Kenapa Kita Nggak?

Kita pasti familiar dengan Customer Relationship Management atau CRM bukan? Yup, ini department yang bertanggung jawab atas hubungan dengan pelanggan. Namun banyak ditemui CRM lebih banyak digunakan sebagai Complain Recovery Management alias department ngadepin tukang complain. Padahal complain management hanya salah satu tugas utama dari sejumlah tugas dan tanggung jawab CRM.

CRM didirikan dengan tujuan untuk menjadikan Purchaser (Pembeli) menjadi Customer (Pelanggan). Proses ini dilakukan dengan membangun hubungan yang lebih erat dan dekat dengan Customer. Dimana kunci keberhasilan dari CRM adalah kemampuan untuk mengenal, mengerti dan memahami customer. Semakin personal semakin baik.

Selain itu, kenapa kita harus memiliki CRM program? Pembeli kita itu ada yang baru dan yang sudah pernah membeli. Orang-orang yang pernah membeli produk kita adalah potensial untuk melakukan repeat order serta menjadi ambassador ke orang lain sehingga mau datang dan membeli produk kita. Untuk new customer kita sudah bahas pada sharing sebelumnya. Nah sekarang kita akan bahas tentang memaksimalkan existing customer dengan CRM program.

Siapa sih yang paling jago dalam urusan CRM? Ga usah ambil contoh jauh jauh, the BEST CRM Implementor itu mengejutkan malah seperti WARTEG belakang kantor! Kok bisa? Coba kalo sering makan disana, maka kita bisa melakukan pesanan dengan kata seperti ini : Bu, aku makan yang biasa ya bu! Atau malah seringkali begitu baru sampe, si ibu sudah kasih tahu : Mas itu tempe gorengnya dah mateng, kopinya ibu bikinin seperti biasa ya. Bahkan saking sering dan rutinnya kita belanja disana malah bisa dapat fasilitas khusus dimana hanya kita sebagai pelanggan yang dapat yaitu Ngutang hahahahahahahhaha Nah Loh… pertanyaan jika si Ibu itu bisa menjalankan CRM program dengan baik kenapa kita tidak??

Apasih yang harus dikerjakan untuk bisa menjalankan CRM program? Untuk saat ini di share Basic tools nya dulu ya sebagai berikut:

Sincere People

Yah, ini basic tools. Hanya orang yang tulus yang bisa membuat CRM program berjalan maksimal. Karena pada akhirnya sentuhan personal jauh lebih melekat dari pada semua gimmick yang akan kita berikan. Ini butuh tidak hanya pengetahuan product knowledge yang mumpuni namun juga kemampuan komunikasi serta kepribadian yang mendukung.

Historical Data

Ini bagian males.com yang selalu menghambat keberhasilan program. Kenapa? Banyak store staff hingga store manager yang sangat malas mengumpulkan data apalagi mengolahnya. Pada akhirnya mereka hanya kenal pada segelintir customer yang repeat order. Yang mungkin jika di total tidak lebih dari 10 orang. Karena hanya ini yang bisa diingat.

Historical data itu mestinya terdiri dari:

  1. Data Diri Customer
  2. Tanggal Belanja
  3. Nilai Belanja
  4. Cara Bayar
  5. Beli Barang Apa

Itu yang basic jika dilakukan secara manual. Jika bisa dicapture dengan system maka harusnya lebih dynamics dan lebih lengkap apalagi jika mau meluangkan waktu untuk membuatnya menggunakan Microsoft Excel sehingga pengolahan data bisa lebih mudah dan bisa di share.

Dari 5 data historical diatas kita sudah bisa melihat:

Data Diri, maka kita bisa tahu Nama untuk memanggilnya, termasuk apakah mbak atau pak karena ada gender, bisa mengucapkan selamat ulang tahun, serta mengucapkan hari raya jika ada datanya, sampai dengan  tahu dari mana asal customer kita karena ada alamat nya. Kita juga jadi bisa menyapa mereka baik secara langsung saat datang maupun via telp atau email yang tercantum pada datanya.

Tanggal Belanja, bisa membuat kita menghitung sudah berapakali dia belanja hingga perilaku belanjanya apakah setiap akhir bulan, awal bulan, setiap minggu, setiap hari. Jika ada system kita bahkan expand ke jam berapa serta berapa lama stay di store kita. Ini membantu kita untuk mengetahui Purchase Behavior yang bisa kita kaitkan dengan kapan akan dilakukan repeat order, kapan bisa memberikan reminder beli via sms atau email bahkan bisa digunakan untuk memberikan kejutan-kejutan.

Nilai Belanja, membuat kita paham berapa besar daya belinya dimana dengan data ini kita bisa membuat program tactical dari sekedar upselling, memberikan list barang dengan harga yang kurang lebih sama hingga bisa membuat program khusus dengan memberikan reward atas akumulasi pembelian yang sudah dilakukannya.

Cara Bayar, Cash atau Credit ini membantu kita untuk melihat seberapa tinggi kita bisa lakukan upselling karena cash punya batasan beli yang pendek sedangkan credit punya batasan beli yang lebih panjang. Hingga bisa memberikan special program baik inhouse program dengan incentive untuk pembelian cash atau kerjasama program dengan penerbit kartu kredit.

Beli Barang Apa, Ini critical karena dengan tahu barang apa yang dibeli maka kita jadi tahu kebutuhannya atau kesukaannya. Kita bisa langsung menawarkan barang tersebut saat beliau datang atau mengirimkan sms atau email tentang adanya barang baru untuk melengkapi barang yang dia beli.

Nah lihat dari data sepele diatas kita bisa bikin banyak program bukan? Kombinasi antara Sincere People dengan Historical Data yang kuat bisa menghasilkan strong relationship dengan customer. Remember customer yang puas akan complain lebih terarah dibanding customer yang kecewa dimana cenderung cari perkara dan mengada ada.

Data-data diatas akan lebih baik jika dilihat secara kombinasi antar data sehingga bisa membuat program yang lebih akurat serta bisa juga dilihat secara global dengan customer lain untuk mengetahui peta pelanggan kita. Jika datanya bagus dan akurat kita bisa lakukan simple cross check apakah target market kita sama dengan realita yang beli? Karena data-data ini bisa menjadi cara untuk memperbaiki banyak hal dalam 7 (Tujuh) P. Kita bahas terpisah ya.

Remember Existing customer itu salah satu cara untuk meningkatkan sales karena mereka sudah beli dan sudah tahu tentang kita. Jadi sayangi pelanggan mu dengan bikin program yang berbeda antara yang baru beli dan sudah pernah beli, caranya? Kenali Customer mu ^.^

So? Lets do it in your store guys!!!

Tinggalkan komentar

Tahukah Anda, Karyawan Mall = Potensial Market Yang Siap Di Garap?

Nah pertanyaan diatas kembali mengingatkan kita yang jaga store. Sudahkah kita memaksimalkan potensial traffic yang kita miliki? Yakin sudah? Untuk mendapatkan new customer maka setiap store sangat tergantung pada traffic yang datang ke mall. Nah bagaimana kalo traffic ke mall nya tidak terlalu baik? Atau adakah potensial lain yang bisa dieksplor?

Secara umum dimall itu ada 2 (dua) jenis traffic.

  1. Mall Traffic, ini yang umum kita ketahui yaitu orang yang datang kedalam mall untuk berbelanja.
  2. Karyawan Mall, yup! Jangan salah ini juga termasuk traffic ke mall. Kenapa? Karena secara umum mereka juga dihari kosong perginya ke mall juga. Dan ini cukup jarang yang memanfaatkannya dengan baik.

Kita bahas yuk tentang Karyawan Mall ini, setiap hari untuk mall dengan 300 store dan 1 Dept Store dan 1 Hypermarket ada sekitar lebih kurang 1.500 orang per shift. Jumlah yang significant kan? Jika dihitung total sehari maka bisa sampai 3.000 an orang dan itu tiap hari datang ke mall.

Ya, tentu tidak setiap dari mereka merupakan Target Market product kita. Kita tetap harus memilah mereka berdasarkan Targeting kita. Namun untuk general product seperti Makanan & Minuman, Pakaian, Sepatu dan barang-barang yang tidak premium maka jenis traffic yang kedua ini sudah pasti sama potensialnya dengan traffic umum mall.

Beberapa keuntungan untuk mulai menggarap Traffic Karyawan Mall ini.

Captive Market

Artinya mereka adalah traffic tetapnya mall yang selalu ada. Bahkan saat mall lagi sepi sekalipun sebenarnya ada 1500an orang yang bisa jadi target market. Trus manfaat buat kita apa?

Captive market berarti kita bisa memiliki pelanggan tetap yang berpotensi membeli produk kita setiap hari. Yup! Setiap hari. Tergantung cycle of product usage. Jika seperti makanan maka bisa rutin harian. Seperti baju, maka ada kesempatan tiap gajian.

Paham Customer Behavior & Expectation nya

Karena mereka sama seperti kita sama-sama karyawan, maka kita bisa tau mulai dari daya beli, pola belanja hingga feed back mereka atas brand-brand yang ada di mall. Ini bagus banget!

Contoh: Karena sering makan bareng dikantin karyawan, kita jadi tau kalo mereka sebenernya suka ama baju-baju brand A, sayang harganya cukup mahal, namun sebetulnya kalo ada program karyawan seperti special price atau cicilan khusus maka mereka mau untuk ikutin syaratnya dan beli.

Atau kita juga tau kalo mereka hanya punya budget Rp.12.000,- sekali makan tapi pengen makan. So, dengan demikian harusnya kita bisa check kita punya resources, can we take this opportunity?

Nah dengan tau begini, yuk review your product trus lihat apa yang bisa dilakukan.

Beberapa idea basic yang bisa dilakukan adalah:

  1. Special Treatment untuk Karyawan, Mulai dari special price hingga fasilitas cicilan untuk karyawan.
  2. Special Product Offering, seperti menu khusus karyawan.

Yang penting satu hal, perlakukan mereka setara dengan regular traffic maka hasilnya akan sangat maksimal. Jangan pernah perlakukan sebagai “warga Negara kelas dua” karena kita juga tidak mau diperlakukan seperti itu kan?

So Lets do it Guys! Explore your creativity, maximize this tools ^.^

1 Komentar

7 (Seven) P : Marketing Mix for Your Tactical Action

7 (tujuh) P dikenal sebagai pengembangan Marketing Mix Tools, dimana basic awalnya adalah 4 (empat) P. Tools ini merupakan fundamental untuk dipahami sebelum membuat strategi marketing. Termasuk dalam melakukan positioning review untuk mencari strong focus yang akan membedakan kita dengan competitor lain serta menjadi Unique Selling Proposition (USP) kita atau bahasa simple nya adalah Kenapa Orang harus beli produk atau brand kita.

Yuk mengenal satu persatu dari 7 (tujuh) P ini :

Product

Ini adalah dasar utama, yaitu barang atau jasa yang mau ditawarkan. Strategi yang bisa dikembangkan dari Tools ini selain pengembangan product baik terkait dengan fitur maupun benefit nya juga pengembangan dengan apa yang disebut oleh produk itu sendiri.

Bingung? Contoh: Jika sebelumnya Product adalah Burger atau Kentang saja, maka dengan sebuah memberikan sebuah brand pada bundlingnya, Happy Meal jadi new product for MC Donalds.

Price

Ini adalah tools paling sering digunakan oleh para marketer baik karena memang punya keunggulan atas operasional sehingga bisa menawarkan lebih murah namun sering juga karena sudah “putus asa” ga tau mau bikin apa sehingga yang dilakukan adalah tactical banting harga >.<

Price itu lawannya adalah perceived value dari customer atau customer yang menilai pantes apa nggak harganya segitu berdasarkan ekspektasi yang mereka miliki dengan realita yang mereka hadapi. Begitu ada Gap antara realita vs ekspektasi maka keluarlah kata-kata mulai dari terlalu murah sampai dengan over price. Oleh karena itu sama customer jangan hanya bertanya mahal atau murah tapi cari tau apa ekspektasinya dan apa realitanya baru tau kenapa dibilang mahal dan murah.

Place

Dikenal sebagai tools distribusi. Yang berarti kemampuan untuk mendekati target market dengan product yang kita jual. Semakin merata dan mudah akan semakin bagus besar kemungkinan dibeli oleh customer.

Kesalahan umum atas tactical ini adalah marketer jarang sekali turun ke lapangan untuk lihat bagaimana, dimana dan seperti apa barangnya didistribusikan. Bagi marketer sudah kasih arahan ya itu tugasnya distribusi untuk memastikannya. Tidak heran sering sekali kita lihat program yang mereka buat jadi tidak tepat sasaran atau gagal karena productnya tidak ada.

Promotion

Seringkali tools tactical ini disalah mengerti dimana hanya dianggap sebagai program discount, free atau bundling saja. Atau juga sering dianggap hanya iklan saja. Promotion pada dasarnya komunikasi ke calon customer dan ke customer dimana pada tactical ini tidak hanya sebagai tools bikin orang beli namun juga bikin orang kenal dan paham dengan produk kita.

Oleh karena itu penting untuk bisa menerjemahkan Segmentasi, Targeting dan Positioning kita dengan baik dalam setiap kegiatan komunikasi kita. Kunci dari kegiatan promotion adalah konsistensi dan kejelasan pesan yang disampaikan.

Nah itu tadi adalah 4 (empat) P yang menjadi basic Marketing Mix Tools, berikut ini adalah 3 (tiga) tambahanya yang menjadi basic tools untuk industry jasa dan retail namun juga sekarang menjadi critical bagi seluruh industry.

People

Untuk industry yang jasa, People factor bahkan lebih penting daripada Product delivery. Karena interaksi manusia dalam proses delivery product nya sangat tinggi. Sebagai contoh, ga ada yang mau di potong rambutnya oleh tukang potong rambut yang galak dan kasar kan? Walau hasilnya bisa penuhin ekspektasi yang kita mau.

People bisa dilengkapi mulai dari yang basic yaitu strong product knowledge hingga an amazing manners. Remember personal touch itu selalu sukses bikin kesan mendalam ^.^

Process

System dan flow process layanan bisa menjadi tactical yang kuat. Hal ini sering terlupakan karena banyak marketer yang sangat lemah di operation management sehingga sering tidak melihat factor ini. Sebagai contoh Tesco di Korea mengembangkan belanja online via QR Code dengan menempelkan list of product di subway sukses meningkatkan tingkat transaksi tanpa harus menambah jumlah store.

Process menyangkut banyak hal mulai dari yang paling simple seperti layanan tukar tambah hingga yang paling complex dengan system CRM yang membuat kita bisa memberikan tawaran berbeda kepada setiap orang dengan secara otomatis di review dari pattern belanjanya.

Physical Evidence

Bagi retail company fit out store selalu menjadi hal penting karena ini akan memberikan experience yang membedakan dengan competitor mereka serta menjadi identitas mereka di tengah crowdnya store.

Namun secara umum tidak hanya sebagai hiasan, physical evidence yang baik selain bisa menjadi differentiator dan identity namun juga bisa memiliki kemampuan untuk membangkitkan impulse demand saat orang melihatnya serta juga mampu untuk memberikan pengalaman yang berkesan dari sebuah pengalaman berbelanja.

Nah diatas adalah 7(tujuh) P yang harus dipahami. Dan harap selalu diingat apapun yang kita buat atas tactical diatas maka ukurannya adalah Customer Perceive Value.

Contoh : Marketer vs Customer

  1. Product vs Wants & Needs
  2. Price vs Cost to Satisfy
  3. Place vs Convenience to Buy
  4. Place vs Communication

Okay, Now coba utak atik 7 (tujuh) P dari produk kita yuk dan mulai berpikir apa yang bisa kita lakukan ^.^

Tinggalkan komentar

Targeting Review Untuk “Given” Product

Seringkali saat kita join ke sebuah company, mereka sudah punya produk/brand dan kita harus memasarkannya tanpa boleh ngutak ngatik produknya. Kondisi ini sering sekali terjadi terutama pada company menengah kebawah dimana mayoritas owner hanya focus dalam membuat produk dan menjualnya jarang sekali yang berpikir dari fundamental.

Trus apa yang harus kita lakukan jika kita punya produk sudah “given” ? First things First yang harus kita lakukan adalah Brand Audit. Yup, lakukan review dulu baru bikin rencana kerja.

Karena jarang sekali punya budget riset serta biasanya mereka menuntut kita berkerja lebih cepat dari mie instan maka short cut yang bisa kita lakukan adalah melakukan Targeting Analysis dengan melakukan tools dibawah ini. Sekali lagi, ini tools ini tidak recommended untuk menjadi benchmark karena seperti pada tulisan sebelumnya, STP harus dilakukan secara proper. Namun tools ini cukup mumpuni untuk memperkirakan Target Market kita.

Bagaimana menentukan Targeting dari Product yang sudah “given” ? Ambil contoh sebagai berikut:

  1. Produk, Jewelry untuk perempuan dengan harga paling murah Rp. 3.000.000,-
  2. Dari info diatas kita coba lakukan analisa mundur Targeting.  Dimana yang sudah jelas baru, Gender yaitu untuk perempuan. Nah kita akan coba review untuk yang lainnya.
  3. Siapa sih yang bisa beli harga 3 juta untuk jewelry? Ini berarti minimal pendapatannya adalah 3 juta rupiah juga dengan asumsi tidak menabung dan bukan dibeliin, karena kalo ikut factor tersebut analisa menjadi terlalu luas factor variable nya.
  4. Orang pasti jarang sekali membeli sebuah benda dengan 100% pendapatan yang dimiliki karena setiap orang pasti punya fix cost untuk dibayar. Oleh karena itu untuk analisa ini kita tambahkan factor biaya dengan breakdown sebagai berikut:
  • Makan 3x sehari x Rp.20.000,- x 30 hari = Rp. 1.800.000,-
  • Transport umum 2x naik x Rp.5.000 x 22 hari kerja = Rp. 220.000,-
  • Pulsa Smartphone 1x isi x Rp.100.000,- = Rp. 100.000,-
  • Kita anggap tinggal masih dengan orang tua.
  • Total Biaya = Rp. 2.120.000,-

Dengan perhitungan diatas, maka untuk membeli produk kita senilai Rp. 3 juta sebagai pendapatan yang harus dimiliki adalah :

Total Harga Barang + Total Biaya = Total Pendapatan , dalam hal ini adalah Rp. 5.120.000,-

Dari angka diatas kita jadi tau, bahwa target market kita minimal bekerja. Nah, untuk mendapatkan pendapatan sebesar itu maka posisi kerjanya minimal apa? Secara realita saat ini, maka posisinya harusnya sudah mulai masuk ke early management seperti Supervisor atau Coordinator level.

Setelah mengetahui posisinya, maka kita bisa memperkirakan usia dan tingkat pendidikannya. Jika lulusan S1 masuk kerja di entry position maka butuh sekitar 3 s/d 4 tahunan untuk mencapai posisi tersebut. Dan jika fresh graduate S2, maka langsung bisa mendapatkan posisi tersebut. Usia masuk universitas sekitar 19 tahunan (SD, SMP, SMA) dan normal kuliah selesai sekitar 4 tahunan. Maka usia lulus kuliah sekitar 23 tahunan dan saat jadi Supervisor usianya berkisar 26 tahun.

Dari review diatas, sekarang kita jadi bisa memperkirakan Targeting dari produk kita. Summary dari review diatas maka Target Marketing kita adalah :

Perempuan, usia 26 tahunan keatas, bekerja, penghasilan Rp. 5 juta keatas dengan pendidikan S1 keatas.

Setelah melihat Targeting diatas, maka baru bisa kita lanjutkan dengan Brand Auditnya. Ambil yang simple dahulu, yaitu check apakah kita sudah berkomunikasi dengan audience yang sesuai dengan Target Market kita? Apakah store kita berada dilingkungan mereka? Seru ya begitu tau hal ini ^.^

Yuk lakukan review Targeting dari produk dan brand kita trus share hasilnya di kolom comment dibawah ini ya

1 Komentar

STP : Fundamental Marketing Tools

Segmentation, Targeting dan Positioning atau biasa disebut dengan STP adalah basic foundation dari sebuah strategi. Bagian ini terlihat penuh teoritikal dan boring serta sering dianggap ga begitu penting bahkan mirisnya di skip begitu saja.

Ini merupakan tools Strategic di Marketing yang menjadi kunci perjalanan startegi Brand atau Product tersebut dimasa yang akan datang. Yuk kita mengenal lebih dekat dengan STP ini.

Segmentasi

Segmentasi, kata ini sering sekali kita dengar dan seringkali bingung membedakan dengan Targeting. Bahasa mudah dari Segmentasi adalah cara kita melihat atau membagi pasar atau pelanggan. Sebagai contoh, kita bisa melihat pasar atau pelanggan atas kemampuan daya beli, ini yang kita kenal dengan A class, B class, C class dan D class. Dimana setiap class mewakili range daya beli dan angka range yang jamak digunakan adalah yang berasal dari Nielsen.

Segmentasi juga bisa dilihat berdasarkan Demografi seperti gender, usia, agama, latar belakang pendidikan hingga yang lebih advance seperti Lifestyle. Saat ini untuk memastikan perusahaan memberikan Product yang tepat kepada pelanggan yang tepat maka hal yang umum Segmentasi dibuat berdasarkan banyak kombinasi diatas.

Targeting

Setelah melakukan Segmentasi maka selanjutnya kita harus memilih bagian mana dari Segmentasi itu yang akan kita pilih. Nah memilih sebuah segmen untuk kita fokuskan disebut dengan Targeting. Kenapa kita harus memilih? Kita tidak bisa memberikan satu Product kepada semua orang karena setiap orang punya ekspektasi yang berbeda. Dan mungkin karena keterbatasan kita juga sulit menyediakan semua hal kepada semua orang.

Kunci dasar dari sebuah strategi adalah Fokus! Kenapa keterbatasan membuat kita harus mengalokasikan sumberdaya secara tepat guna sehingga menghasilkan impact yang maksimal.

Contoh: Segmentasi pasar adalah berdasarkan gender, pendidikan dan daya beli. Setelah melihat potensi pasar serta kemampuan kita untuk memberikan Product maka kita memilih Target Market yaitu Perempuan dengan tingkat pendidikan S1 keatas dan penghasilan 5 juta.

Bagaimana melakukan Targeting yang tepat? Yang sangat disarankan adalah dengan melakukan riset dan review atas resources yang kita miliki dan market yang akan kita hadapi. Ingat STP adalah fundamental Strategic.

Untuk membantu melakukan Targeting secara simple jika tidak memiliki kemampuan riset akan di Share pada tulisan yang lain. Namun sekali lagi sangat disarankan untuk dilakukan secara proper.

Positioning

Nah ini bahasa mudahnya adalah reason to buy atau jawaban dari pertanyaan Kenapa saya harus beli Product anda? Atau kenapa saya harus memilih anda dibanding competitor anda?

Setiap Product yang akan dikirim kepasar harus memiliki alasan untuk dibeli. Bahkan komoditas pun memiliki alasan untuk dibeli walau sangat simple seperti “kudu dibeli” alias kebutuhan pokok. Apalagi jika kita memilih Target Market yang sudah punya banyak pilihan (mainstream).

Kegagalan melakukan Segmentasi dan Targeting biasanya berakhir dengan Positioning pamungkas yaitu HARGA >.< , yah ini seharusnya hanya menjadi bagian dari Tactical namun banyak sekali perusahaan atau Brand yang berakhir menjadi Life Time Tactical sehingga secara otomatis menjadi Positioning mereka. Tidak heran mereka melakukan Everyday Discount hingga temen-temen di store bilang harga label itu cuman formalitas hiksss

Pilihlah Positioning yang bisa membuat mereka mengingat Product anda atau Brand anda. Karena hasil akhir dari tools STP adalah memenangkan Mind Share alias menjadi Top of Mind (TOM). Sehingga setiapkali calon pelanggan ingin membeli sebuah barang yang mereka butuhkan mereka ingat Product atau Brand anda.

Secara detail dalam memilih Positioning akan kita bahas pada sharing tulisan berikutnya.

Nah sekarang, coba lihat yuk apakah kita sudah melakukan dan memiliki STP?

Tinggalkan komentar

Conversion Rate Sebagai Alarm Awal Performance

Conversion Rate adalah tools untuk mengukur seberapa efektif kita memanfaatkan potential traffic yang datang ke store kita. Secara umum bentuk laporan Conversion Rate adalah sbb:

  1. Jumlah Traffic In : Ini adalah jumlah traffic yang masuk kedalam store kita
  2. Jumlah Look : Ini adalah jumlah traffic yang masuk dan berkeliling melihat lihat koleksi kita
  3. Jumlah Try : Ini adalah jumlah traffic yang mencoba koleksi kita
  4. Jumlah Buy : Ini adalah jumlah traffic yang melakukan pembelian

Biasanya semakin kebawah, jumlah traffic yang pindah ke proses berikutnya akan semakin berkurang. Kemampuan memindahkan traffic dari setiap proses ini yang disebut dengan Conversion Rate.

Ukuran utama Conversion Rate yang paling sering digunakan adalah mengukur ratio jumlah traffic yang membeli dengan traffic yang masuk ke store :

(Total Traffic Buy) / (Total Traffic In) = Effective Traffic (Conversion Rate)

Hasil diatas diukur dengan percentage dimana semakin tinggi nilainya maka semakin efektif kita memanfaatkan potential traffic yang datang ke store kita.

Contoh:

Total Traffic In : 100 , Total Traffic Look : 80, Total Traffic Try : 50, Total Traffic Buy : 10

Conversion Rate nya adalah 10 / 100 = 10%

Sedangkan selisih berkurangnya traffic ini disebut dengan Customer Gap dimana sebagai seorang marketer maupun store manager kita harus berusaha mencari tau apa yang menjadi Gap bagi Customer. Dimana pada contoh diatas berarti 90% dari Traffic In tidak sampai melakukan transaksi.

Kesalahan umum pada Conversion Rate ini adalah:

  1. Tidak dihitung alias dibiarkan, kebayangkan gimana bisa benerin store nya kalo masalahnya saja ga tau
  2. Data tidak valid, sering dengan alasan sibuk staff store mengisi asal-asalan dengan slogan asal report jadi atau asal bos seneng, padahal data yang salah adalah data sampah dan ga usah kaget kalo nanti keputusan dari Head Office juga sampah
  3. Conversion Report dibuat namun tidak diikuti dengan menganalisa Trend perubahan atas Traffic baik penurunan atau kenaikan dan atau tidak mencari tahu lebih lanjut tentang Customer Gap, ini seperti tahu kapal bocor tapi tidak mau repot mencari asal kebocoran apalagi melakukan action buat nutup bocornya hasilnya? Tenggelam sudah pasti! Kapannya tergantung besar kecilnya kebocoran.

Nah gimana dengan store kita? Sudah melakukan perhitungan Conversion Rate? Atau menunggu sampai terlambat?

Tinggalkan komentar

Join @Opsmarketer Line Group

Salam Opsmarketer!

Kami mengundang anda untuk bergabung di Line Group @Opsmarketer, dimana tujuan dari group ini adalah untuk membentuk komunitas yang memiliki keinginan Learning, Sharing and Networking. Group ini sifat nya social knowledge yang berarti tidak hanya terbatas untuk berdiskusi namun juga untuk saling mengenal satu sama lain (berinteraksi social).

Aturan Dasar Group adalah:

  1. Diskusi utama adalah terkait dengan Retail Operation, Sales dan Marketing
  2. Kedewasaan berdiskusi sangat diutamakan dimana saling menghormati dan menerima perbedaan pendapat serta tidak melakukan Personal atau Company Attack, Memberikan Pendapat bukan Memaksakan Pendapat
  3. SARA & Pornografi tidak dibenarkan kecuali terkait dengan pembahasan strategi dan keilmuan sesuai dengan point satu diatas
  4. Posting Foto Makanan dan Personal tidak dibenarkan kecuali terkait dengan pembahasan strategi dan keilmuan sesuai dengan point satu diatas
  5. Hindarkan Posting Singkat (One Liner) agar bias menjaga keborosan notifikasi. Sangat disarankan untuk membuat setting notifikasi menjadi mute jika diskusi berjalan ramai demi kenyamanan pribadi
  6. Gunakan Avatar Diri dan Nama Asli untuk membantu proses sosialisasi yang lebih erat
  7. Inviation ke Group dilakukan satu pintu via Moderator dan mengikuti tata cara bergabung dibawah ini.
  8. Moderator berhak tanpa berkewajiban menjelaskan untuk mengeluarkan dari group jika melanggar salah satu dari point Aturan Dasar Group
  9. Hal-hal lain yang belum diatur dalam aturan dasar akan menjadi diatur oleh Moderator

Cara Bergabung :

  1. Add Line ID ronaldsipahutar (Moderator Group)
  2. Kirim pesan ke ronaldsipahutar permintaan bergabung ke group
  3. Mengisi data pada link berikut http://sdrv.ms/17eSy8d , data ini hanya untuk kepentingan Networking bukan untuk spamming (kecuali mencentang persetujuan untuk subscribe) serta memastikan bahwa yang bergabung benar benar berniat untuk Learning, Sharing & Networking.
  4. Moderator akan melakukan review pada file data dan hanya menginvite ke group yang sudah mengisi secara lengkap
  5. Memperkenalkan diri kepada member group dengan format : [Nama]/[Company]/[Lokasi Tinggal]/[Twitter Account] , contoh : Ronald Sipahutar/Opsmarketer/BSD/@ronaldsipahutar

Selamat Bergabung 🙂

Tinggalkan komentar

Stock Card : Dokumen Penting Yang Sering Dilupakan

Stock Card atau biasa dikenal sebagai Kartu Stock merupakan Tools yang sangat mendasar dan sederhana dalam pengelolaan Inventory namun sangat penting.

Fungsi dasarnya adalah mencatat pergerakan keluar masuk inventory. Secara simple, stock card itu akan berisi beberapa kolom utama yaitu:

  1. Tanggal : Berisi catatan tanggal penerimaan dan pengeluaran
  2. Keterangan : Penjelasan atas pergerakan barang baik keluar maupun penerimaan
  3. In (Masuk) : Ini adalah kolom untuk menulis jumlah yang diterima
  4. Out (Keluar) : Ini adalah kolom untuk menulis jumlah yang keluar
  5. Balance (Saldo) : Ini adalah kolom selisih antara Stock Awal setelah ditambah dengan penerimaan atau dikurangi dengan pengeluaran yang hasilnya disebut dengan Stock Akhir
  6. Paraf : Ini adalah kolom verifikasi yang menerima atau yang mengeluarkan

Sangat penting untuk selalu mengisi stock card secara rutin dan benar. Stock Card adalah data awal yang akan menjadi acuan pada semua proses selanjutnya, mulai dari sebagai alat verifikasi penjualan barang, analisa perhitungan Inventory Turn Over hingga Aging of Inventory. Data Stock Card yang tidak di update secara berkala dan diisi dengan benar akan menjadikan data berikutnya menjadi menyesatkan bahkan tidak berguna.

Stock Card itu adalah salah satu tools yang menjadi subject to audit yang artinya :

  1. Kita tidak boleh bermain main dan anggap remeh dokumen penting ini.
  2. Perubahan pada stock card tidak boleh di Tipex dan harus diparaf baik oleh yang merubah dan supervisor atau manager level di store.
  3. Stock Card harus mudah diakses serta harus disimpan sesuai dengan periode yang sudah ditentukan baik oleh policy perusahaan atau petunjuk dari team auditor.

Untuk store level, stock card seharusnya tidak hanya sebagai catatan keluar masuk barang namun bisa menjadi analisa dasar dalam pengelolaan persediaan.
Contoh:

  1. Via stock card kita bisa mengetahui barang mana yang fast moving dan mana yang slow moving
  2. Via stock card kita bisa memprediksi kapan stock barang kita akan habis dan kapan harus melakukan order agar saat barang diterima stock masih mencukupi serta berapa jumlah barang yang harus di order
  3. Lihat tulisan ttg Inventory Turn Over dan Aging of Inventory untuk lihat hal lain manfaat dari stock card.

Nah kaget ya dengan banyak nya fungsi dari sebuah stock card yang simple? Implementasinya kita bahas pada tulisan yang lain ya.

Now your job, please check your stock card dan mulai lakukan review simple ya.

Tinggalkan komentar

Productivity Review

Productivity adalah salah satu indicator kesehatan sebuah store. Dimana pengukuran ini untuk melihat seberapa efektif dan efisien sebuah store dikelola dibandingkan dengan resources dan result yang dihasilkannya.

Dimensi yang dilihat sangat luas dengan dua basic pengukuran yaitu Sales dan Cost. Rumus dasarnya adalah:
(Total Sales atau Cost) / (Dimensi yang ingin diukur) = Productivity

Contoh:
Dimensi yang ingin diukur adalah, Berapakah Productivity Sales saya per Square meter?
Total Sales 100 juta dan Luas store adalah 10sqm maka hasilnya adalah 10 juta per sqm productivity nya.
atau, dimensi yang ingin diukur adalah, Berapakah Productivty Cost saya per Square meter?
Total Cost 30 juta dan Luas store adalah 10sqm maka hasilnya adalah 3 juta per sqm productivity nya.

Apa artinya data diatas? Cara bacanya begini, setiap sqm yang kita miliki menghasilkan 10 juta rupiah sales dengan biaya 3 juta per sqm. Apakah ini bagus atau tidak? Maka kita harus bandingkan dengan productivity dari store yang lain atau nasional benchmark.

Contoh:
Store A dengan luas 100 sqm menghasilkan sales 500 juta
Store B dengan luas 50 sqm menghasilkan sales 300 juta

Secara simple kita akan bilang bahwa Store A lebih baik dari Store B, namun hal berbeda jika kita lihat productivity nya.

Store A : 500 juta / 100 sqm = 5 juta/sqm
Store B : 300 juta / 50 sqm = 6 juta/sqm

Nah dengan begini kita jadi tau ternyata harusnya Store A dengan luasan 100 sqm seharusnya bisa menghasilkan sales 600 juta.

Perhitungan productivity sangat penting untuk mengukur dan membandingkan kinerja antar store sehingga kita bisa melihat seberapa productive sebenarnya store kita serta apa yang harusnya kita capai.

Yuk kita coba ukur store kita 🙂

Tinggalkan komentar

Aging of Inventory

Aging atau dikenal dengan umur barang adalah salah satu ukuran untuk mengontrol persediaan atau inventory kita di store dan Head Office (HO).

Pengukuran paling dasar dalam Aging adalah:
Tanggal Stock Barang  – Tanggal Penerimaan Barang = Umur Barang (Aging)

Contoh:
Tanggal melakukan stock opname adalah 17 Agustus 2013
Tanggal barang tersebut diterima adalah 17 Agustus 2012
Maka umur barang adalah 12 bulan atau 1 tahun

Dengan mengetahui berapa lama umur barang tersebut dalam inventory kita, maka kita bisa menghindarkan terjadinya penumpukan barang hingga menghindarkan resiko penyimpanan seperti rusak. Dan juga bisa menjadi ukuran apakah sebuah barang tersebut dianggap tidak bergerak (Non Moving) atau sangat laris (Fast Moving).

Untuk barang perishable atau yang mudah rusak, perhitungan aging ini membantu menjaga cycle First in First Out (FIFO). Sedangkan untuk barang yang berdasarkan atas trend atau mode maka ini bisa jadi penentu untuk melihat apakah out of date atau masih update.

Secara nasional dengan mengetahui umur barang maka juga bisa membantu kita mengontrol pergerakan Harga Pokok Pembelian (HPP) terutama bagi barang yang HPP nya berubah mengikuti sebuah pergerakan harga. Contoh, Tinta Printer dimana harga beli nya dipengaruhi oleh nilai dollar. Atau import barang-barang yang tentu saja sangat bergantung dengan fluktuasi harga dollar.

Berapakah Aging yang baik? Ini sangat tergantung dengan jenis barang yang dimiliki serta model bisnis yang dijalankan. Yang penting dasarnya adalah kita harus tau umur sebuah barang karena akan membantu kita membuat keputusan yang tepat.

Contoh:
Buat Minimarket A, umur barang tidak boleh lebih dari 3 bulan. Lebih dari itu sudah dianggap Non Moving.
Namun untuk sekelas Hypermarket B , umur barang boleh sampai dengan 6 bulan baru dianggap Non Moving.

Yuk coba lakukan review di store dan gudang kamu 